Tujuan Pernikahan dalam Islam: Mengenal Pentingnya Membentuk Keluarga

Meningkatkan Keluarga Sakinah


Keluarga Sakinah

Keluarga Sakinah adalah impian setiap pasangan yang menikah. Suami dan istri yang saling memahami, saling cinta, dan saling mendukung satu sama lain merupakan pondasi yang kuat bagi sebuah keluarga. Oleh karena itu, tujuan pernikahan dalam Islam NU adalah untuk meningkatkan kesakinahan dalam keluarga.

Pernikahan dalam Islam NU bukanlah sekedar akad nikah atau formalitas semata. Pernikahan dalam Islam NU melibatkan komitmen yang kuat dari kedua belah pihak untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Tujuan pernikahan dalam Islam NU adalah untuk membentuk keluarga yang berisikan suami, istri, dan anak-anak yang saling mencintai, menghargai satu sama lain, dan beribadah bersama-sama.

Untuk mencapai tujuan tersebut, pasangan harus memiliki keyakinan yang kuat bahwa Allah bersama-sama mereka dan mereka berdua memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan keimanan, kualitas hidup, dan saling memperbaiki diri sendiri. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam meningkatkan keluarga sakinah, antara lain:

1. Menjaga Kualitas Iman dan Taqwa

Taqwa

Kunci utama meningkatkan keluarga sakinah adalah kualitas iman dan taqwa. Iman dan taqwa merupakan pondasi yang kuat dalam kehidupan berkeluarga, karena keluarga yang taat beribadah kepada Allah Swt. Akan selalu merasakan keberkahan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, menjaga kualitas iman dan taqwa harus menjadi prioritas utama dalam keluarga.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa dalam keluarga. Salah satunya adalah memperbanyak kegiatan ibadah bersama seperti sholat berjamaah, membaca Al-Quran, dan mengaji bersama. Selain itu, pasangan suami istri juga harus saling mengingatkan untuk selalu bersikap sabar, murah hati, saling memberi maaf serta membina hubungan yang harmonis dan damai.

Berbagai kualitas iman tersebut harus diinternalisasi pada diri masing-masing anggota keluarga, sehingga keluarga menjadi saling mengerti dan saling mendukung. Dalam keadaan apapun, keimanan yang kuat akan selalu mempertahankan kesatuan dan keharmonisan keluarga. Meningkatkan kualitas iman dan taqwa dalam keluarga juga meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga secara menyeluruh.

2. Mengajarkan Akhlakul Karimah

Akhlakul Karimah

Akhlakul karimah atau perilaku mulia adalah ajaran Islam yang sangat penting untuk diterapkan dalam keluarga. Pasangan suami istri harus saling mendidik dan mencontohkan akhlak yang baik pada anak-anak. Setiap anggota keluarga juga harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Mengajarkan akhlakul karimah pada anak-anak sangat penting, agar mereka tumbuh menjadi anak yang berakhlak baik dan tumbuh menjadi individu yang mandiri yang dapat membanggakan keluarga. Suami dan istri juga harus saling mendukung dalam mengajarkan akhlakul karimah kepada anak-anak.

Dalam implementasinya, hal yang paling utama dalam mengajarkan akhlakul karimah adalah dengan membiasakan memberi contoh baik bagi anak-anak. Sebab pada dasarnya setiap insan cenderung meniru apa yang dilihatnya di sekitar, termasuk di lingkungan keluarga. Oleh karena itu, dalam keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, membentuk prilaku dan rutinitas positif agar tumbuh dengan baik, positif, dan mampu mengekspresikan dirinya secara baik juga harus diperhatikan.

Demikian beberapa cara agar persamaan hati, keluarga sakinah dapat terwujud. Dengan menjalankan kewajiban salam menyelaraskan apa yang menjadi tujuan kehidupan berkeluarga, suami dan istri akan semakin memperkuat rasa cinta, saling pengertian, serta mampu menjadi pasangan yang saling memberi dukungan satu sama lain. Dalam Islam NU,Tujuan pernikahan adalah membentuk keluarga yang sakinah.

Memperkuat Iman dan Taqwa


Memperkuat Iman dan Taqwa

Tujuan pernikahan dalam Islam NU memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah memperkuat iman dan taqwa bagi pasangan suami istri. Imannya akan semakin kuat karena mereka memutuskan untuk berkomitmen pada suatu pernikahan di hadapan Allah SWT. Selain itu, bersama-sama menjalankan ibadah seperti shalat berjamaah, membaca Al-Quran, dan berdoa akan memperkuat hubungan spiritual pasangan suami istri.

Dalam Islam, suami istri diciptakan untuk saling melengkapi dan saling membantu dalam meningkatkan iman dan taqwa. Ada banyak tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan oleh setiap individu sebagai pasangan suami istri dalam memperkuat iman dan taqwa.

Salah satu tugas utama suami istri adalah saling memberikan motivasi dan dorongan untuk memperkuat iman dan taqwa. Pasangan suami istri dapat saling mengingatkan untuk selalu berdoa, membaca Al-Quran, dan menjalankan ibadah dengan baik. Hal ini akan memperkuat hubungan mereka secara spiritual dan menjadikan pernikahan mereka lebih harmonis.

Selain itu, pasangan suami istri juga harus saling mendukung dalam mengejar ilmu dan pengetahuan agama. Mereka dapat menghadiri kelas-kelas agama bersama-sama atau membaca buku-buku agama agar dapat lebih memahami ajaran Islam. Selain itu, pasangan suami istri dapat bertanya dan berdiskusi dengan ulama atau orang-orang yang lebih berpengalaman agar dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang ajaran Islam.

Pasangan suami istri selain saling memberikan motivasi dan dukungan, mereka juga harus saling bahu-membahu dalam menghindari perbuatan dosa. Hal ini bertujuan agar pasangan suami istri dapat terhindar dari perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam seperti maksiat, makanan haram, judi, dan lain sebagainya.

Dalam Islam, memperkuat iman dan taqwa dalam pernikahan sering kali dihubungkan dengan keberhasilan pasangan suami istri dalam menjalankan tugas-tugas dan tanggung jawab mereka sebagai khalifah Allah di dunia ini. Pasangan suami istri sebagai khalifah Allah di dunia ini yang utama adalah untuk mengkaji, mengamalkan, dan menyebarluarkan syariah Islam, serta mendirikan negara-negara Islam yang Syari’atnya berlaku karena Allah.[1]

Dalam menjalankan tugas sebagai khalifah Allah, pasangan suami istri harus memiliki integritas dan kualitas moral yang baik. Mereka harus memastikan bahwa setiap tindakan dan pekerjaan yang mereka lakukan selalu berlandaskan pada nilai-nilai Islam dan berada dalam kerangka hukum yang benar. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan teladan yang baik kepada masyarakat sekitar, serta selalu mengupayakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pribadi.

Dalam kesimpulannya, memperkuat iman dan taqwa dalam pernikahan adalah tujuan utama dari pernikahan dalam Islam NU. Pasangan suami istri harus saling mendukung dan memberikan motivasi untuk saling meningkatkan iman dan taqwa. Mereka harus saling membantu dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai khalifah Allah di dunia ini, serta selalu berlandaskan pada nilai-nilai Islam. Hal ini akan menjadikan pernikahan mereka lebih harmonis dan membawa kebahagiaan serta kemakmuran dalam hidup mereka.

Menjaga Keseimbangan Antara Hak dan Kewajiban Pasangan


Tujuan Pernikahan dalam Islam NU

Dalam Islam, pernikahan ditujukan untuk menjadi sarana untuk memelihara ketentraman dan kestabilan dalam berumah tangga. Selain itu, pernikahan juga merupakan ajang untuk melaksanakan tujuan hidup sebagai hamba Allah SWT. Karena itu, pasangan suami istri yang menjalankan pernikahan dalam Islam NU harus mampu menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban masing-masing.

Hak dan kewajiban dalam pernikahan merupakan dua sisi yang tak terpisahkan. Pasangan suami istri harus mampu memenuhi hak pasangan masing-masing sekaligus menjalankan kewajiban yang telah diamanatkan oleh Allah SWT. Satu hal yang perlu dicermati, pasangan yang mementingkan hak dirinya saja dan mengabaikan kewajiban akan membuat keluarga tidak harmonis.

Seringkali, salah satu pasangan merasa lebih berhak atau lebih bertanggung jawab dalam menjalankan pernikahan. Padahal, hak dan kewajiban dalam pernikahan harus dilakukan bersama-sama sebagai tim yang saling menguatkan. Sebagai contoh, pasangan suami istri yang menempatkan pekerjaannya sebagai prioritas utama tanpa mempertimbangkan kebutuhan pasangan memiliki hak, namun tidak menjalankan kewajiban. Hal ini jelas mengganggu keharmonisan rumah tangga dan mengganggu keseimbangan serta ketenteraman dalam keluarga.

Sebaliknya, pasangan yang mementingkan kewajiban dan mengabaikan hak dirinya sendiri akan membuat dirinya tidak merasa dihargai dan akhirnya mengakibatkan kecemburuan. Padahal Islam memberikan hak-hak yang seharusnya dipenuhi oleh pasangan satu sama lain. Contohnya, suami mempunyai hak untuk mendapat kesetiaan dari sang istri, dan istri mempunyai hak untuk diberlakukan dengan baik oleh suaminya. Jika salah satu dari pasangan tidak memenuhi hak yang diberikan oleh Islam, maka itu sama saja dengan tidak menjalankan kewajiban.

Oleh sebab itu, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam pernikahan merupakan hal yang penting. Pasangan harus saling memahami dan menghargai satu sama lain, menerima dan memenuhi hak serta kewajiban dengan sepenuh hati. Dalam rumah tangga Islam NU, hak dan kewajiban tidak boleh dilaksanakan secara parsial, tetapi harus melibatkan dua sisi. Kehadiran Allah SWT sebagai objek pengawasan harus senantiasa menjadi dasar dalam menjalankan pernikahan yang berkeadilan.

Hak dan kewajiban dalam pernikahan dapat diwujudkan dalam setiap aspek kehidupan suami istri, mulai dari ekonomi, hubungan seksual, hingga perhatian yang diberikan pada anak-anak. Pasangan yang memenuhi hak dan kewajiban dengan tepat akan dapat memberikan kebahagiaan, ketentraman, dan kestabilan dalam rumah tangga.

Dalam Islam NU sendiri, keseimbangan antara hak dan kewajiban pasangan merupakan salah satu nilai penting yang harus dijunjung tinggi. Menjaga hak dan kewajiban dalam pernikahan adalah penerapan dari nilai-nilai keadilan dan kasih sayang; pilar utama dalam Islam. Karenanya tiap pasangan harus senantiasa mengembangkan nilai-nilai tersebut dan mengaplikasikannya dalam prilaku keseharian.

Memenuhi hak dan kewajiban pasangan juga menjadi kunci kebahagiaan suami istri. Ketika pasangan merasa dirinya dihargai dan diperhatikan, ia juga merasa lebih dekat dan terjalin hubungan yang erat, harmoni dalam keluarga akan tercipta. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban pasangan merupakan kunci dalam meraih kebahagiaan rumah tangga.

Kesimpulannya, pernikahan dalam Islam NU mencakup tujuan yang luas, mulai dari membangun keluarga sehat hingga meraih ridho Allah SWT. Salah satu yang perlu ditekankan dalam pernikahan adalah menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban pasangan. Setiap pasangan harus memenuhi hak dan menjalankan kewajiban masing-masing, sehingga tercipta keseimbangan dan ketertiban dalam keluarga. Dalam rumah tangga Islam NU, nilai-nilai kasih sayang dan keadilan menjadi dasar dalam menjalankan pernikahan dengan harmonis dan bahagia.

Check Also

Kisah Nabi Yunus Dan Ikan Paus

Kisah Nabi Yunus Dan Ikan Paus – Home / Kisah Islami / Kisah Indah Teladan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *